Kamis, 12 Februari 2009

Tasawuf, Penentang dan Pendukungnya (Bagian 2)

Mereka yang beribadah siang dan malam menurut para ahli tafsir tidak lain adalah ahli Shuffah. Yaitu sekelompok sahabat Nabi pilihan. Sekeliling mereka memang hampa dari segala kehidupan bendawi, namun jiwa dan nurani mereka penuh iman dan cinta kasih Allah. Kepada mereka Allah memerintahkan bersabar. Dan ahli Shuffah itulah sebenarnya angkatan pertama, yang belakangan gaya hidup mereka diteladani oleh ahli-ahli sufi dari zaman ke zaman.
Sungguhpun demikian, mereka yang antipati tasawuf, secara emosional menuduhnya sebagai ajaran campuran sintesis kepercayaan Hindu, Budha, Neoplatonisme dan Nasrani. Kiranya perlu ditegaskan, bahwa anggapan keliru terhadap tasawuf sebagai aliran yang bukan bersumberkan dan tidak dijiwai oleh semangat Islam, mula-mula dilontarkan pengamat Barat. Dari asumsi inilah kemudian timbul ungkapan dan pandangan yang simpang siur itu. Dan tak jarang belakangan asumsi itu dikutip dan sekaligus diakui keabsahannya oleh penulis kita sendiri sebagai suatu sumber yang shahih untuk mematahkan eksistensi sufisme.
Sehingga secara tidak langsung, mereka (sebagian muslim yang kagum terhadap pendapat orientalisme) telah mendukung untuk menyebarluaskan asumsi keliru itu secara besar-besaran melalui karya-karya mereka berupa buku-buku. Dan sejak itu sebagian orang dengan semangat anti dan phobi menganggap tasawuf adalah bukan dari Islam, bahkan disebut tasawuf itu bagian dari mistikisme
Dalam skala lain, para pakar dari kalangan orientalisme telah menuduh bahwa Fiqih Islam misalnya, dikatakan bersumber dan merupakan jiplakan dari Undang-undang Romawi. Begitu pula akhirnya tasawuf Islam tidak pernah diakui oleh golongan itu sebagai aliran dan produk pemikiran yang bersumberkan Islam.

Karena begitu vulgar pemahaman mereka, sehingga tasawuf itu dipahami tidak melalui perspektif Islam yang benar. Namum sebaliknya dikaji dari aspek subyektivitas mereka yang lantas menghasilkan simpulan yang salah.
Padahal sesungguhnya bila ditilik dari perspektif Al-Qur’an dan As-Sunnah, keberadaan tasawuf dan ahli sufi itu mempunyai benang merah dengan Islam dan ajaran-ajarannya secara mendasar.
(Bersambung…..)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar